mushroom (3)

Nanda Putri Rahmania

Story: Jadi Tim Dirgantara (Happy Ver.)

Hahoy!

Aku mulai masuk tim dirgantara di bulan Maret 2018, divisi Multirotor, ada ceritanya juga yang bisa kalian baca di Jadi Tim Dirgantara (Hikmah Ver.)

Sebelum lomba 2018, di Tim FW(Fixed Wing) ternyata anggota mudanya ada yang keluar, dan harus ada penggantinya. Dan salah satu yang ditawarin buat gabung adalah aku. Tapi aku nggak mau karena ya terlalu sayang sama EMIRO. Udah yakin juga bakal ikut lomba. Yaudah tuh tertolak lahh FW.

Kedua.
Di semester selanjutnya, pergantian pengurus, ganti ketua tim. Entah gimana ceritanya karena nggak begitu inget, Mas Alip, ketua FW tahun sebelumnya ngajak aku ketemu di kantin kampus.

Waduh ngapain tuh?

Anw, mas alip dan aku sama sama SC(steering committee) JRC, cuma beda tahun.

Diwawancara dong, kaya sibuk apa, JRC gimana, dan intinya Mas alip minta tolong aku buat gabung FW. Padahal dia tau sibuknya SC JRC gimana.

Alasannya karena di FW Tim yang ikut lomba cuma 2, Yogi yang gabung waktu mau lomba itu pindah Tim karena di tim lain ketuanya keluar dan Yogi harus gantiin. Emangnya gak bisa cuma dua orang? Bisa. Anggota satunya dari adik kelas, tapi akhirnya mesti pilih 1 dari 3 adik kelas. Terus nanti akhirnya cari anggota baru buat ikut lomba kaya cerita awal. Atau malah bikin adik kelas yang lain iri karena ngerasa nggak dipilih. Yakan?

Alesan lainnya karena Abdul sama Putra yang saat itu calon tim yang akan ikut lomba malah sibuk dengan urusan masing-masing. Dan akhirnya adik kelas juga nggak ada yang ke lab karena ngapain? Yang ngajarin nggak ada.

Akhirnya perlu bantuan seseorang yang bisa memper-erat hubungan tim dan sekaligus ikut lomba. Apakah aku langsung terima? Nggak.

Karena saat itu aku ngerti kemampuan aku nggak sampe situ, aku masih sibuk di JRC, dan dulu di EMIRO aku nggak fokus di elektrikal, cuma bantu dikit-dikit aja. Tapi kata Mas Alip emang tujuannya aku di tim lebih untuk mempererat anggota bukan ke teknis, baiklah mari kita coba aja.

Dan inilah kami, ternyata masing masing anggota punya masalah masing-masing yang menyebabkan mereka males ke lab. Dan cerita itu mereka bagi ke aku. Senangnya bisa menjadi tempat cerita orang lain.

Karena sering berbagi cerita, sering makan, dan nongkrong bareng. Kami bukan lagi tim melainkan keluarga, yang lama kelamaan datang ikhlas ke lab untuk mengerjakan jobdesk. Ya walaupun tetap ada dramanya. Tapi tetep seneng.

Sebuah tim ga cuma perlu orang-orang pintar, tapi juga perlu orang yang bisa merekatkan hubungan.