mushroom (3)

Nanda Putri Rahmania

Kenapa harus Disebut “Anu”?

“Kamu kalo duduk jangan gitu, nanti anu kamu kelihatan lho”

“Eh anu-ku sakit banget nih”

Siapa yang pernah pakai kata anu? Sepertinya hampir semua orang ya. Menggunakan kata anu sebagai pengganti kata lain yg tujuannya untuk mempermudah pengucapan. Atau bahkan karena malu menyebutnya. Seperti kasus di atas yaitu penyebutan anu untuk bagian tubuh.

Ternyata itu nggak baik lho. Kenapa harus disebut anu padahal kita bisa dengan leluasa menyebutnya seperti bagian tubuh lain. Hidung, leher, mata contohnya.

Nggak cuma anu, menggunakan kata pengganti seperti burung, boo-boo, miaw juga sama tidak baiknya.

Menyebut bagian tubuh dengan nama sebenarnya bisa menghindari pelecehan seksual. Kaget? Sama aku juga waktu pertama kali tau.

Kebanyakan orang akan malu untuk menyebutkan nama bagian tubuh, terutama vagina, penis. Nggak ada alasan malu karena itu bagian tubuh kita. Alih-alih malu, kita harus tau kenapa nggak boleh dilihat sama orang lain.

Ya alasan singkatnya untuk menjaga kehormatan dan nafsu ya.

Dan ngapain kita yang punya bagian tubuh malu? Harusnya orang yang memaksa untuk melihanya dan memegang yang bukan miliknya yang malu.

Menggunakan kalimat ‘lucu’ sebagai pengganti juga akan memberi kesempatan untuk pelaku pelecehan seksual. Pedofil akan dengan mudah membujuk anak melakukan hal yang tak pantas sebagai “kegiatan bersenang-senang” dan anak pun akan menuruti kemauannya. 

Lalu bagaimana jika orang lain akan atau telah menyentuh bagian tubuh kita? Terutama bagian sensitif. Yaitu dengan berkata “Tidak jangan menyentuh payudaraku!”, dan melaporkannya kepada orang tua, atau pihak berwajib. Jika menggunakan kata “anu”, akan memberi kesan bagian itu tabu dan nggak boleh disebutkan di depan umum. Jangan sampai juga membuat korban pelecehan seksual menjadi malu karena di mindset-nya itu adalah hal tabu.

Kemungkinan terburuk jika sampai harus duduk di pengadilan menjadi saksi karena pelecehan seksual. Penyebutan bagian tubuh dengan benar akan memberatkan terdakwa daripada menyebutnya dengan “anu” atau kata pengganti lain.

Dan terakhir mempermudah diagnosa medis. Dengan menyebut misalnya vagina, akan mempermudah petugas medis untuk mengambil tindakan.

Kita nggak perlu lagi malu untuk menyebut vagina, penis, payudara, bohong dan bagian sensitif lain karena bagian tubuh itu wajar untuk disebut setiap hari, sama seperti bagian tubuh lain. Bukan hal tabu yang dan merupakan bagian dari kesehatan serta tanggungjawab untuk merawat dan menggunakannya dengan baik dan benar.